Warsih
Hi dear,
Kisah ini adalah lanjutan dari ceritaku minggu lalu yang berjudul Tangisan tengah malam.
Setelah kejadian malam itu, aku memutuskan untuk tidur di dekat pintu. Maksudnya sih supaya aku lebih mudah pergi kalau kalau kejadian malam itu terulang lagi.
Malam pun mulai larut, ketika itu pukul 00.00. Aku belum juga mengantuk, lalu ku coba pejamkan mata ku berusaha untuk tidur. Tiba tiba aku mendengar suara langkah sepatu, mendekatiku.
Ternyata itu adalah seorang wanita, berambut panjang. Dia berkata dengan suara lirih "dik, boleh saya bermalam disini?"
Aku hanya bisa anggukan kepala, sambil memberinya bantal. Dia pun berkata "dik, tidurnya pindah ya. Biar saya yang tidur disini".
Lagi lagi aku mengiyakan, karena aku pikir mungkin dia tidak ingin menggangguku bila dia hendak pergi esok pagi.
Hari pun menjelang pagi, setelah aku membuka mata. Wanita itu sudah tidak ada lagi, lalu ku mendengar suara ketukan pintu yang ternyata ayah ku yang datang mengunjungiku.
Aku menjalankan aktifitas seperti biasa, karena harus mempersiapkan ujian sekolah aku pun pulang agak larut.
Sesampainya dirumah aku melihat ayah ku sudah tertidur, di dekat pintu. Ingin ku memintanya untuk pindah tapi ku takut untuk membangunkannya.
Akhirnya aku biarkan, dan aku pun mulai bersiap siap untuk tidur. Tapi alangkah terkejutnya aku ketika mendengar suara meminta tolong sangat keras. Lalu aku mencari suara itu, dan ternyata itu suara ayah ku. Segera ku bangun kan ayah ku, aku goyang kan bahu nya. Ayah... ayahhh panggil ku...
Ayah ku pun terbangun sambil mengucap istighfar, aku tidak bertanya mimpi apa ayah ku sampai berteriak sekeras itu. Karena ayah ku hanya terdiam setelah nya, dan kembali tidur.
Keesokan harinya ayah mengajakku untuk pulang. Tentu saja aku menolak karena selain jarak rumah dan sekolah yang sangat jauh, aku pun sedang ujian "takut kesiangan" kata ku. Tapi karena ayah berjanji akan mengantarku sekolah akhirnya aku mau pulang bersamanya.
Ketika sampai dirumah aku menceritakan kejadian malam lalu ketika ada seorang wanita yang menginap, lalu ayah ku bertanya ciri ciri wanita itu. Wanita itu berambut panjang sepaha, memakai baju kerja warna biru, itu saja yang ku ingat "jawabku"
Orang tua ku terdiam menatapku, aku bingung dibuat nya. "Duhh kena marah nih, batinku" lalu ayah ku bertanya lagi, wanita itu tidur dimana? Didepan pintu, persis tempat ayah tidur semalam "jawabku"
Lagi lagi mereka menatap ku, tatapan yang membuat ku penasaran ada apa sebenarnya. Apa wanita itu penjahat? Kejahatan apa yang diperbuat wanita itu? "Batinku".
Lalu ku beranikan diri untuk bertanya ada apa sebenarnya? Memang nya siapa wanita itu? "Tanya ku". Awalnya mereka seperti enggan menjawab pertanyaan ku. Karena aku terus mendesak, ayah ku pun bercerita.
Kamu tau ga semalam ayah mengigau? Iya tau, kan aku yang bangun kan ayah "kataku". Kamu mau tau ga ayah mimpi apa? Sampai mengigau begitu? Aku pun menggangguk.
Waktu ayah tidur, kaki ayah di tarik tarik oleh seorang wanita. Makanya ayah teriak meminta tolong, dan ciri ciri nya sama persis dengan wanita yang kamu sebutkan tadi itu.
Aku tertegun, apa apaan sih ini? "Batinku". Karena masih penasaran aku kembali bertanya " apa ayah kenal wanita itu?" Ayahku mengangguk, dan mulai bercerita.
Dulu, rumah ku itu adalah kontrakan. Dan yang mengontrak adalah sepasang suami istri dari daerah (pendatang). Sebut saja suaminya bernama tono dan istrinya bernama warsih. Tono bekerja serabutan kadang nukang, narik angkot, apa saja pokoknya. Sedang warsih bekerja sebagai pegawai Bank.
Siang itu warsih pulang kerja lebih awal, dan entah apa sebabnya mereka bertengkar hebat. Hingga akhir nya tono meninggalkan rumah. Selang beberapa jam tono pun kembali. Sesampainya dirumah tono berteriak memanggil manggil nama warsih "istrinya" dan meminta tolong.
Kami kaget mendengar suara tono yang berteriak meminta pertolongan, kami pun ramai ramai datang kerumah nya dan alangkah terkejutnya kami ketika melihat seorang wanita sedang tergantung di atap rumah dengan wajah pucat pasi dan lidah menjulur.
Akhirnya kami segera menghubungi polisi, setelah polisi datang mereka langsung menurunkan jasad warsih dan membawanya dengan mobil ambulance. Keesokan harinya kami mendapat kabar kalau warsih murni bunuh diri dengan cara nya sendiri.
Setelah itu, tono pulang kekampung halaman. Meninggalkan cerita horor tiap malam, yaaa... teror warsih. Semenjak kejadian itu, banyak warga yang melihat warsih sedang duduk di depan rumahnya. Dengan tatapan kosong, dan tali yang masih menempel di lehernya.
Waktu pun berlalu, rumah kontrakan itu pun di renovasi dan menjadi tempat tinggal ku sekarang. "Tempat warsih gantung diri dulu itu, sekarang menjadi kamar mandi"
Oohh pantas saja "batinku" pantas saja aku sering mengalami kejadian aneh di sekitaran kamar mandi rumah ku. Dari kran yang buka tutup sendiri, lampu yang mati dan hidup sendiri. Ternyata itu adalah ......
Keesokan harinya aku kesekolah, dengan diantar ayah (sesuai janjinya). Sesampainya di sekolah ayah memintaku untuk pulang ke rumah nya. Huft rumah di desa sekolah di kota "gumamku" dan aku hanya mengangguk.
Selesai sekolah aku pulang ke rumah itu, yaa rumah dimana warsih juga tinggal. Aku memutuskan untuk tinggal bersama dengan warsih karena ku pikir sekolah ku tidak lama lagi dan aku sedang menanti kan kelulusan.
Hari pun berlalu, dan aku mulai terbiasa dengan suara langkah kaki. Suara orang sedang mandi, lampu mati dan menyala sendiri. Warsih, ya itu warsih "batinku"
Waktu kelulusan pun tiba, aku lulus dengan nilai memuaskan. Bersamaan dengan itu pula rupanya rumah yang ku tinggali bersama warsih telah laku terjual. Hari itu aku mengemasi barang barang ku untuk kembali tinggal bersama orang tua ku. Tak lupa pula ku ucap kan selamat tinggal kepada warsih.
Mba warsih, aku pamit. Terima kasih sudah menemaniku, terima kasih karena mungkin saja mba warsih juga sudah menjagaku. Bersamaan dengan itu aku mencium wangi kembang yang sangat menyengat. Mungkin pertanda warsih meng iya kan perkataan ku.
Ayah ku pun datang menjemput, sesampai nya dipintu aku menoleh dan tersenyum. Seakan akan ada sosok warsih sedang mengantarkan kepergianku.
Pengalaman yang bisa kupetik dengan kejadian ini adalah bahwa kita memang hidup berdampingan dengan dunia lain. Asal jangan saling mengusik tidak akan ada masalah...
Semoga bisa di jadikan sebagai pelajaran, sèlamat malam.
Salam,
Yp19
Komentar
Posting Komentar
Selamat datang dan terima kasih masukan nya.
🙏