Penghuni rumah tua, part 1.
Satu persatu mereka mendatangi ku.
Awal kisah ini bermula ketika aku pindah ke rumah suamiku. Rumah yang sudah cukup lama tidak berpenghuni, ditinggalkan oleh suamiku yang memilih tinggal bersama orang tua nya.
Karena tidak ingin menyusahkan orang tua, kami memutuskan untuk hidup mandiri. Saat itu aku baru saja melahirkan anak pertama ku.
Suami ku sering pergi ke luar kota untuk bekerja, sehingga harus meninggalkan aku dan anak ku di rumah. Dari awal kedatangan ku di rumah ini, aku sudah bisa merasakan aura yang berbeda.
Rumah yang lembab, suhu ruang tidak menentu. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya bisa menuruti kemauan suamiku.
Ooh iya, sedikit informasi. Rumah ku ini berada di ujung jalan. Dari satu rumah ke rumah yang lain memiliki jarak yang lumayan jauh.
Hari itu suami ku sedang berada di luar kota, tinggalah aku bersama anak ku.
Malam hari nya ketika aku sedang menidurkan anak ku, aku mendengar suara gaduh di depan kamar. Gaduh sekali, seperti ada banyak orang yang sedang bercengkrama. Tetapi setelah aku keluar kamar aku tidak menemukan siapa siapa.
Terus terang aku takut sekali, karena ada anak ku. Aku takut anak ku di sakiti oleh mereka, yaa mereka dari dunia lain. Suara itu masih saja terdengar di telingaku, semakin larut suara itu semakin menjadi jadi. Seakan akan ada banyak orang di rumah ku.
Aku berusaha untuk tetap terjaga dimalam itu, karena aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Ku peluk erat anak ku, karena tak ingin sesuatu terjadi menimpanya.
Malam berikut nya, aku merasa sangat lelah sekali karena aku terus saja terjaga di malam sebelumnya. Tak sadar waktu sudah menunjukan pukul 21.00, yang menandakan hari sudah mulai larut.
Duhh, aku belum menyiapkan air hangat. Batin ku..
Ketika aku hendak mengambil air, aku melihat sesuatu diluar kamar ku. Sesuatu yang baru pertama kali aku melihat nya. Aku melihat sesosok laki laki berperawakan tinggi besar, berpakaian putih lusuh. Dengan tali yang terikat di atas kepalanya, dan kapas yang masih menempel di mata dan lubang hidung nya.
Pocong... ya itu pocong batin ku. Aku berusaha untuk tenang dengan keberadaan nya, cukup sekali aku melihatnya. Setelah mengambil air, aku kembali ke kamar ku. Aku melewatinya seakan akan tidak ada apa apa, walau aku tau dia masih ada di sana, berdiri seakan akan sedang memperhatikan ku.
Sesampai nya di kamar, aku peluk anak ku. Aku tidak berdaya dan hanya bisa pasrah. Dengan apapun yang mungkin saja bisa terjadi di malam itu.
Hari berikut nya, aku tidak mau melihat penampakan itu lagi. Akhirnya aku persiapkan keperluan anak ku mulai dari pagi hari.
Tetapi na'as masih saja ada yang tertinggal. Hingga aku harus kembali mengambilnya lagi. Dengan jantung yang berdegub kencang aku memutus kan untuk kembali keluar kamar.
Awalnya biasa saja, hati ku sedikit lega. Tidak ada apa apa, pikir ku. Tetapi setelah aku ingin kembali ke kamar aku melihat sesosok tua renta, memakai baju putih lusuh sedang memandangiku. Ooh.. Tuhan... apa lagi ini.. batin ku.
Aku masih berusaha tenang dengan melewatinya. Malam demi malam aku lewati dengan penampakan yang berganti ganti.
Hingga suami ku pulang, aku menceritakan semua kejadian itu. Dan seperti dugaan ku, dia tidak percaya. Ya sudah lah, batin ku. Aku lelah bercerita, seperti orang gila. Hingga aku mulai terbiasa dengan mata yang selalu memperhatikan ku tiap malam.
Aku hanya bisa berdoa supaya mereka tidak menyakiti aku dan anak ku.
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar
Selamat datang dan terima kasih masukan nya.
🙏