Sajen

" Perempuan itu berubah menjadi sangat mengerikan"

Hi sobat horror story, sebelum nya ijinkan aku untuk mengucapkan terima kasih banyak atas supportnya selama ini. Semoga blog ini bisa berkembang dengan baik.

Kisah kali ini aku angkat berdasarkan pengalaman dari ayah salah seorang kerabat ku,  sebut saja Pak Said. Dan kali ini aku memposisikan diri sebagai pak said. Inilah kisah ku:

Kisah itu terjadi di tahun 1961, saat itu usia ku  menginjak 25 tahun. Kejadiannya bermula ketika orang tuaku memutuskan untuk bermukim di "Desa S".  Desa tempat tinggal ku masih sangat kental dengan aura mistis, seperti hari itu.

Aku melihat orang tua ku menyiapkan sesuatu yang di letakan diatas sebuah tampah.

"Itu apa bu?" Tanya ku
"Bukan apa-apa, pergi sana" ujar ibu ku

Akupun berlalu pergi, tidak puas dengan jawaban ibu, aku pun keluar mencari jawaban atas pertanyaan ku. Dan akhirnya aku menemukan nenek ku di teras rumah. Ku hampiri nenek ku, yang terlihat sangat sibuk sama seperti ibu ku.

"nek, sedang apa"? Tanya ku
"Sedang menyiapkan sesajen". Ujar nenek ku
"Sesajen itu apa?, untuk apa nek?" Tanya ku lagi
"Sesajen untuk para leluhur, supaya para leluhur selalu melindungi kita dari bencana" cerita nenek ku.

Setelah persiapan selesai, diam diam aku membuntuti mereka. Aku melihat mereka menuju arah pantai, mereka mengadakan ritual dengan menaruh sesajen di tepi pantai. Bersamaan dengan itu datang ombak besar, seperti menerima persembahan itu. 

Setelah mereka pergi, aku pun mendekat ke tepi pantai tempat mereka mengadakan ritual. Aku melihat ada 1 tampah yang tidak terbawa arus, entah apa yang aku fikirkan saat itu. Aku mengambil dan memakan nya. "Tidak ada yang lihat ini, lagian mubajir kan kalau makanan di buang buang" batin ku

Dan keanehan pun mulai terjadi...

Sesampainya aku di rumah, tiba tiba aku merasakan sesak yang begitu menghimpit dada ku. Bersamaan dengan itu, aku melihat seorang perempuan yang berparas sangat cantik. Aku dekati perempuan itu, dia menggenggam tangan dan menuntun ku. Sementara aku hanya bisa memandanginya, hati ku berdecak kagum melihat paras nya.      

"Said... said... said..." suara ibu memanggil ku.

Aku pun menoleh ke belakang, dan ternyata memang benar itu ibu ku. 
Ketika aku ingin menghampiri ibu ku, perempuan itu memegang erat tangan ku. Seperti tidak ingin melepas genggamannya. 

"Lepaskan tangan ku" ujar ku

tetapi semakin aku perhatikan paras perempuan itu berubah menjadi sangat mengerikan.

Aku pun berontak sekuat tenaga untuk melepaskan genggaman tangannya. Dalam hati aku lafalkan ayat ayat suci, dan genggaman tangannya melemah. Saat itu juga aku lari menghampiri dan memeluk ibu ku.

Tiba tiba aku sudah berada dirumah dengan posisi di peluk ibu. Aku melihat ibu ku menangis, sedih sekali. Lalu ku melihat sekitar, ada banyak sekali orang orang sedang berkumpul. Mereka memandangiku dengan raut wajah yang tidak biasa.

Setelah ibu melepaskan pelukannya,  aku ingin berdiri namun aku tidak bisa menggerakkan kedua kaki ku. 

Ada apa ini? Apa yang sedang menimpaku? Segudang pertanyaan menumpuk di benak ku.

Baru saja aku membuka mulut ku...
Istirahat lah dulu nak. "Ujar ibu ku.
Dan kuturuti perintah ibu untuk beristirahat.
 
Keesokan hari nya, aku mencoba menggerakan lagi kaki ku. Tetapi masih tidak bisa, saat itu juga ibu ku dan salah seorang kuncen datang menghampiri ku.

"Kami melihat mu tersungkur di depan rumah, dan tidak sadarkan diri selama 3 hari nak", ujar sang kuncen.
"Memang apa yang kamu lakukan di hari itu? Sampai kamu tersungkur?" Tanya kuncen itu lagi

Aku pun bercerita sambil menggenggam tangan ibu, aku takut dia marah dengan apa yang aku lakukan. 

Ketika aku selesai bercerita, kuncen itu terdiam dan mengajak ibu ku keluar dari kamar ku. Entah apa yang mereka bicarakan, aku hanya melihat raut kesedihan yang melekat di wajah ibu.
Lalu ibu mendatangiku dan berkata, "nak, kamu sudah melakukan sesuatu yang membuat leluhur marah. Untuk itu kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu".
Aku pun mengangguk tanda setuju.

Perlengkapan ritual pun dilakukan, sebelumnya sang kuncen memandikan ku dengan bermacam macam bunga. Setelah itu mereka memapah ku menuju tepi pantai.
Sang kuncen menyuruhku berlutut dan berjanji agar tidak melakukan hal itu lagi, sambil menaruh sesajen di tepi pantai. 
Tak lama kemudian ombak pun datang dan menarik sesajen persembahanku. Mungkin sebagai tanda bahwa permintaan maaf ku di terima.
"Alhamdulillah" batin ku.

Ritual pun selesai. Setelah itu keadaan ku berangsur membaik, aku bisa berjalan seperti sedia kala. Sungguh kejadian yang diluar nalar manusia, hanya Allah yang maha mengetahui apa yang terjadi. 

Sekian kisah ku, semoga terhibur dan bisa dijadikan pelajaran. 

Salam,
Yp 19




 










Komentar