Pembalasan Janin Hasil Aborsi
Cerita kali ini berkisah tentang pembalasan janin yang di aborsi, dan disini aku memposisikan diri sebagai sang nara sumber. Ini lah kisahku:
Namaku Erie (samaran), saat ini aku adalah seorang ibu dari 2 anak perempuan. Kisah ini terjadi saat usiaku yang masih sangat muda. Saat itu aku mempunyai tunangan bernama (sebut saja) Satia , dia bekerja sebagai seorang pelaut. Kami bertunangan sudah 2 tahun lamanya.
Singkat cerita kami melakukan hubungan layaknya suami istri, dan aku hamil. Aku segera memberitahukan tentang kehamilan ini kepada satia, dan dia berjanji akan segera menikahiku setelah dia pulang nanti. Namun berbulan bulan kutunggu satia tak kunjung datang.
Hingga suatu hari aku mendengar berita kepulangan satia, langsung saja ku berlari menemui satia di kediamannya. Tapi... takdir berkata lain, ternyata Satia pulang bersama seorang perempuan dan anak kecil. Yang dia akui sebagai anak dan istrinya.
Entah apa yang aku rasakan saat itu, suasana hati yang tadinya sangat indah berubah seketika menjadi mengerikan. Aku tak sanggup menerima kenyataan pahit ini.
Air mata tak tertahankan tiba tiba membasahi wajah ku. Aku tak bisa berkata kata, hati ku hancur. Seperti gelas yang jatuh dari tempat yang sangat tinggi, hancur sehancur hancurnya.
Satia memang berjanji akan menikahiku tapi untuk menjadikan ku istri ke dua, bukan istri satu satunya seperti khayalanku selama ini.
Tentu saja aku menolak, karena tak pernah sekalipun terlintas di angan ku untuk berbagi suami dengan perempuan lain.
Akhirnya ku pulang membawa kepedihan, hati ku sakit. Jiwa ku berontak, tak bisa ku terima semua ini. Hari hari ku suram, batin ku terus saja mencari cari jawaban atas apa yang terjadi padaku. Hingga aku membenci janin yang ku kandung
Dan yang lebih parah lagi aku membenci Tuhan... kenapa Dia membuat takdirku sesakit ini, apa salah ku. Pertanyaan itu saja yang selalu menggeluti hati dan pikiranku.
Hingga suatu hari terlintas dipikiranku untuk membuang janin yang ku kandung, aku pun pergi membeli obat penggugur kandungan. Namun usaha ku sia sia, karena ternyata janin ku terlalu kuat.
Lalu tanpa seorangpun tau, aku pergi ke rumah aborsi. Aku gugurkan kandunganku, tak ku hiraukan rasa sakit yang menderaku. Karena yang ada dipikiranku saat itu adalah membuang jauh jauh janin ku. Aku tak ingin mempunyai hubungan atau mengingat ingat masalalu ku bersama satia lagi.
Proses aborsi pun selesai, ku pendam jasad bayi ku dibelakang rumah. Haripun berlalu setelah kejadian itu. Dan rasa sakit dikhianati pun sudah berangsur hilang. Aku sudah bisa menikmati hari hari seperti biasa, hari hari sebelum bertemu dengan satia dulu.
Namun bencana baru hadir di kehidupanku, aku merasakan tubuh ku sakit sekali seperti ada yang menusuk nusuk di sekujur badan. Sudah banyak rumah sakit ku datangi. Tetap saja tidak ada perubahan.
Sampai hari itu tiba, di perjalanan untuk menebus obat. Aku bertemu dengan seorang tua renta, dia terus saja memperhatikan ku. Memandangiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Entah apa yang ada dipikirannya.
Dan tua renta itu menghampiriku:
Tua renta: sedang menunggu obat nak?
Aku: iya pak
Tua renta: Sakit apa?
Aku: tidak tau pak, sakit sudah lama tak kunjung membaik.
Tua renta: sakit seperti tertusuk tusuk dari ujung kepala hingga ujung kaki??
Aku: terdiam (dari mana dia tau) batinku
Tua renta: Banyak banyak istighfar nak, ingat dosa. (Sambil berlalu pergi)
Aku tidak paham dengan apa yang dia katakan. Sesampainya di rumah aku terus saja memikirkan kata kata si tua renta itu. Keesokan harinya kucari si tua renta itu. Aku bertanya kesana kemari, namun tidak ada yang tau. Dan ditengah keputus asaan ku akhirnya aku menemukannya.
Tak membuang waktu, langsung saja kutanyakan tentang kejadian kemarin. Dari mana dia tau tentang sakit ku, dan apa maksud dari perkataannya. Lalu dia membawaku ke kediamannya. Disana dia bercerita:
Aku melihat wajahmu suram, dengan tulang belulang yang menancap di sekujur tubuhmu.
Tulang apa pak? Tanya ku
Tulang manusia, kecil kecil seperti tulang bayi.
Pikiranku langsung tertuju kepada janin yang pernah aku aborsi dulu. Karena saat itu aku melihat tubuh mungil yang berantakan. Tulang belulang keluar berserakan. Ketika itu air mataku kembali menetes, hatiku sangat sedih. Bersama itu kembali ku ingat dosa, ku ingat Tuhan.
"Pak, tolong aku. Aku menyesali perbuatanku. Aku ingin bertaubat. "Pintaku lirih
Kemudian si tua renta itu memberi wejangan dan arahan kepadaku.
Di hari yang sama, aku membongkar tanah yang dulu pernah ku pakai untuk menyimpan jasad bayi ku. Ku makam kan jasad bayi ku dengan layak. Akupun bertaubat, kembali mengingat dan datang kepada Tuhan.
Malam hari nya aku bermimpi didatangi anak laki laki yang memanggil ku dengan sebutan "mama". Kupandangi wajah kecil itu, kubelai dengan lembut lalu dia tersenyum dan menghilang entah kemana.
Aku pun terbangun, air mata lagi lagi mengalir dan aku menyesali perbuatan ku. Tak seharusnya aku membunuh darah dagingku sendiri, tak seharusnya aku mengorbankan nyawa yang tak berdosa. Sungguh aku menyesal.
Semoga Tuhan menerima taubat ku. Aamiin
Demikian kisahku, semoga kalian tidak mengalami hal yang serupa dengan ku.
Salam,
Yp 19
Komentar
Posting Komentar
Selamat datang dan terima kasih masukan nya.
🙏